Kualitas pelayanan kesehatan di daerah sangat bergantung pada ketersediaan dan kesiapan infrastruktur pendukung yang memadai. Namun, kabar memprihatinkan datang dari wilayah Banggai, di mana dilaporkan beberapa Alat Medis yang sangat krusial di rumah sakit umum daerah mengalami kerusakan teknis yang belum kunjung diperbaiki. Kerusakan perangkat seperti mesin cuci darah (hemodialisa) hingga alat radiologi ini menyebabkan puluhan pasien yang membutuhkan tindakan segera menjadi terhambat proses penyembuhannya, bahkan ada yang terpaksa dirujuk ke rumah sakit di kota besar yang jaraknya mencapai ratusan kilometer.
Masalah Alat Medis yang tidak berfungsi ini sering kali berakar pada minimnya biaya pemeliharaan rutin dan sulitnya mendatangkan teknisi ahli ke wilayah pelosok. Selain itu, prosedur pengadaan suku cadang yang berbelit-belit melalui birokrasi anggaran sering kali membuat waktu perbaikan memakan waktu berbulan-bulan. Selama masa penantian tersebut, pasien dengan kondisi kritis harus menanggung risiko keselamatan nyawa yang sangat besar. Ketimpangan fasilitas kesehatan antara pusat dan daerah ini merupakan luka lama yang seharusnya segera disembuhkan melalui kebijakan alokasi dana darurat yang lebih responsif bagi rumah sakit di daerah terpencil.
Dampak dari rusaknya Alat Medis ini juga dirasakan oleh para dokter dan perawat yang merasa tidak berdaya saat harus menangani pasien tanpa dukungan teknologi yang standar. Rasa frustrasi muncul ketika mereka mengetahui prosedur yang harus dilakukan, namun sarana pendukungnya tidak tersedia atau rusak. Hal ini sering memicu kemarahan dari keluarga pasien yang merasa kecewa dengan lambannya penanganan, padahal akar permasalahannya ada pada ketersediaan logistik dan alat. Pemerintah kabupaten didesak untuk segera melakukan audit fasilitas secara menyeluruh dan memastikan setiap alat memiliki kontrak servis yang jelas guna meminimalisir waktu kerusakan.
Transparansi dalam pengelolaan anggaran kesehatan sangat diperlukan agar perbaikan Alat Medis tidak lagi terkendala masalah finansial yang klasik. Masyarakat di Banggai berhak mendapatkan layanan kesehatan yang sama berkualitasnya dengan masyarakat di ibu kota provinsi. Pemanfaatan dana bagi hasil daerah atau bantuan dari pusat harus diprioritaskan untuk pemenuhan kebutuhan dasar medis ini sebelum dialokasikan ke proyek fisik lainnya yang kurang mendesak. Kesehatan rakyat tidak boleh dijadikan taruhan akibat kelalaian dalam pemeliharaan sarana prasarana publik yang sangat vital bagi kelangsungan hidup orang banyak setiap harinya.
