Memasuki tahun 2026, tantangan kesehatan di beberapa daerah masih berkutat pada penyakit tropis yang seringkali disalahpahami oleh masyarakat luas. Gerakan lawan kusta menjadi fokus utama STIKES Banggai dalam upaya menurunkan angka prevalensi sekaligus menghentikan diskriminasi terhadap para penyintas. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae ini sebenarnya dapat disembuhkan sepenuhnya jika dideteksi lebih dini. Namun, hambatan terbesar dalam penanganannya bukanlah kurangnya obat-obatan, melainkan stigma negatif dan ketakutan yang berlebihan yang berkembang di tengah interaksi sosial masyarakat.
Upaya menghapus stigma lewat medis dilakukan dengan cara memberikan edukasi secara masif bahwa kusta tidak menular melalui kontak sosial biasa seperti bersalaman atau berbagi makanan. Penyakit ini memiliki masa inkubasi yang panjang dan membutuhkan kontak erat yang sangat lama untuk bisa berpindah dari satu individu ke individu lainnya. Di wilayah Banggai, banyak pasien yang terlambat berobat karena merasa malu atau takut dikucilkan oleh lingkungan sekitar. Akibatnya, kondisi penyakit sudah mencapai tahap lanjut yang dapat menyebabkan cacat fisik permanen, yang seharusnya bisa dicegah dengan pengobatan rutin.
Strategi lawan kusta yang dijalankan oleh para mahasiswa dan dosen STIKES melibatkan pendampingan psikologis bagi keluarga pasien. Penanganan medis yang efektif harus berjalan beriringan dengan dukungan sosial agar pasien memiliki semangat untuk menyelesaikan masa pengobatan yang cukup lama. Obat Multi-Drug Therapy (MDT) telah tersedia secara gratis di berbagai fasilitas kesehatan, namun kedisiplinan dalam mengonsumsinya adalah kunci keberhasilan. Tenaga medis di lapangan terus bekerja keras untuk melacak kasus-kasus baru di daerah terpencil agar rantai penularan dapat segera diputus sebelum menyebar lebih luas.
Melalui pendekatan stigma lewat medis, diharapkan persepsi masyarakat yang menganggap kusta sebagai penyakit kutukan atau keturunan dapat terkikis habis. Sains telah membuktikan bahwa ini adalah murni masalah infeksi bakteri yang bisa ditangani oleh teknologi kedokteran modern. Sekolah kesehatan di Banggai juga melatih para kadernya untuk menjadi jembatan komunikasi antara dunia medis dan tokoh masyarakat adat. Dengan bahasa yang mudah dimengerti, mereka menjelaskan bahwa perubahan pada kulit yang mati rasa harus segera diperiksakan ke puskesmas terdekat tanpa rasa takut.
Keberhasilan agenda lawan kusta akan menjadi bukti kemajuan peradaban kesehatan di Sulawesi Tengah. Masyarakat yang cerdas adalah masyarakat yang mampu memanusiakan sesamanya tanpa memandang kondisi fisiknya. Pendidikan kesehatan yang inklusif merupakan senjata utama dalam memerangi ketidaktahuan yang selama ini menghambat kemajuan medis. Mari kita dukung langkah nyata menghapus stigma lewat medis demi mewujudkan Banggai yang lebih sehat, sejahtera, dan bebas dari diskriminasi penyakit menular di masa depan yang lebih cerah.
