Sejak zaman kuno, banyak orang percaya bahwa bulan memiliki kekuatan untuk mempengaruhi perilaku manusia, namun bagaimana sebenarnya Pengaruh Fase Bulan terutama saat Purnama terhadap Psikologi Manusia jika ditinjau secara medis? Istilah “lunacy” atau kegilaan sendiri berakar dari nama dewi bulan, Luna, yang mencerminkan keyakinan lama bahwa gangguan jiwa meningkat saat bulan penuh. Meskipun banyak yang menganggapnya mitos, beberapa penelitian medis terbaru mulai menemukan kaitan antara siklus lunar dengan pola tidur dan fluktuasi suasana hati, meskipun mekanismenya tidak sesederhana pengaruh gravitasi terhadap pasang surut air laut.
Salah satu Pengaruh Fase Bulan yang paling terukur secara klinis adalah kualitas tidur. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Current Biology menunjukkan bahwa selama malam Purnama, aktivitas otak yang berkaitan dengan tidur nyenyak menurun sebanyak 30%, dan orang cenderung membutuhkan waktu lebih lama untuk terlelap. Kurangnya kualitas tidur ini secara langsung berdampak pada Psikologi Manusia, memicu iritabilitas, kecemasan, dan penurunan kontrol emosi pada hari berikutnya. Jadi, lonjakan kasus di unit gawat darurat psikiatri yang sering dilaporkan petugas kesehatan saat bulan purnama mungkin lebih disebabkan oleh kelelahan kolektif akibat gangguan tidur masif daripada pengaruh mistis cahaya bulan.
Teori lain mengenai Pengaruh Fase Bulan berkaitan dengan ritme sirkadian dan intensitas cahaya malam hari. Sebelum adanya lampu listrik, cahaya bulan purnama yang terang sangat mempengaruhi aktivitas manusia di malam hari. Bagi penderita gangguan bipolar, perubahan durasi cahaya malam dapat memicu episode mania. Secara medis, tubuh manusia memiliki “jam biologis” yang sangat sensitif terhadap cahaya. Meskipun saat ini kita hidup dengan pencahayaan buatan, sisa-sisa mekanisme evolusi yang merespons siklus lunar masih tertanam dalam sistem saraf kita, mempengaruhi produksi hormon melatonin dan serotonin yang mengatur suasana hati.
Meskipun demikian, sains tetap memperingatkan adanya confirmation bias dalam fenomena ini. Petugas kesehatan atau polisi mungkin lebih cenderung mengingat kejadian aneh yang terjadi saat bulan purnama daripada saat fase bulan lainnya, menciptakan kesan seolah-olah bulan adalah penyebab utamanya. Edukasi mengenai kaitan antara lingkungan kosmik dan kesehatan mental harus tetap berpijak pada data empiris. Memahami bahwa kondisi alam dapat mempengaruhi kenyamanan tidur kita adalah langkah bijak untuk mempersiapkan diri, misalnya dengan memastikan kamar tidur tetap gelap sempurna saat fase bulan purnama tiba.
