STIKES Banggai adalah perguruan tinggi kesehatan di Kabupaten Banggai yang menawarkan program studi keperawatan dan kebidanan unggulan, fasilitas pendidikan modern, serta informasi pendaftaran mahasiswa baru dan pengembangan karir di bidang kesehatan.
Perjuangan Mahasiswa STIKES Banggai Tembus Hutan Demi Obati Warga Desa
Perjuangan Mahasiswa STIKES Banggai Tembus Hutan Demi Obati Warga Desa

Perjuangan Mahasiswa STIKES Banggai Tembus Hutan Demi Obati Warga Desa

Dedikasi di dunia kesehatan sering kali menuntut pengorbanan yang melampaui tugas-tugas di ruang perawatan rumah sakit yang nyaman. Hal ini dibuktikan melalui Obati Warga Desa yang dilakukan oleh para Mahasiswa STIKES Banggai saat menjalankan program pengabdian masyarakat di pelosok Sulawesi Tengah. Medan yang berat, akses jalan yang tertutup rimbunnya hutan, hingga sungai yang meluap tidak menyurutkan semangat mereka untuk membawa layanan medis bagi masyarakat yang selama ini terisolasi dari fasilitas kesehatan memadai. Pengalaman lapangan ini menjadi ujian mental sekaligus bukti nyata integritas calon tenaga medis masa depan.

Dalam misi untuk Obati Warga Desa, para mahasiswa ini harus membawa peralatan medis dan obat-obatan dengan berjalan kaki selama berjam-jam melewati jalur setapak yang licin. Kurangnya infrastruktur di wilayah pedalaman Banggai memaksa mereka untuk memiliki ketahanan fisik yang ekstra selain keahlian medis yang mumpuni. Di sana, mereka memberikan layanan pemeriksaan kesehatan gratis, mulai dari pengecekan tekanan darah, pengobatan luka infeksi, hingga penyuluhan kesehatan dasar bagi ibu dan anak. Kehadiran mereka disambut dengan haru oleh warga yang selama ini sulit mendapatkan akses pengobatan karena kendala jarak dan biaya.

Tujuan utama dari upaya Obati Warga Desa ini adalah untuk mendeteksi dini penyakit-penyakit menular yang sering kali terabaikan di kawasan hutan. Mahasiswa STIKES Banggai melakukan pendataan kesehatan lingkungan dan memberikan edukasi mengenai pola hidup bersih dan sehat (PHBS) yang sesuai dengan kearifan lokal setempat. Tantangan komunikasi dan perbedaan budaya dihadapi dengan pendekatan humanis yang sangat sabar. Mereka belajar bahwa menjadi seorang tenaga kesehatan bukan hanya soal menyembuhkan fisik, tetapi juga membangun kepercayaan dan kedekatan emosional dengan masyarakat yang dilayani.

Dukungan dari pihak STIKES Banggai dalam memfasilitasi kegiatan ini menunjukkan komitmen institusi terhadap pembangunan kesehatan di daerah tertinggal. Mahasiswa dibekali dengan modul kesehatan komunitas yang sangat aplikatif untuk diterapkan di medan yang sulit. Pelatihan tanggap darurat yang mereka dapatkan di kampus menjadi modal berharga saat harus memberikan pertolongan pertama di tengah keterbatasan alat. Program ini tidak hanya bermanfaat bagi warga desa, tetapi juga memberikan perspektif baru bagi mahasiswa mengenai ketimpangan kesehatan yang masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi bangsa Indonesia.