Menyandang status sebagai mahasiswa kesehatan sering kali membawa tanggung jawab sosial yang tidak tertulis di lingkungan rumah, di mana muncul Suka Duka saat tiba-tiba kamu dianggap sebagai “dokter komplek” oleh para tetangga. Baru saja pulang dari kampus dengan tas penuh buku tebal, tak jarang tetangga sebelah rumah datang membawa hasil laboratorium atau sekadar menunjukkan ruam di kulit untuk ditanyakan diagnosanya. Fenomena ini menciptakan kebanggaan tersendiri namun sekaligus beban mental, karena meskipun masih dalam proses belajar, masyarakat sudah menaruh kepercayaan yang sangat besar pada pengetahuanmu.
Bagian dari Suka Duka ini adalah perasaan senang karena ilmu yang dipelajari di bangku kuliah mulai terasa manfaatnya secara nyata bagi orang sekitar. Memberikan edukasi sederhana mengenai cara mencuci tangan yang benar, menjelaskan cara minum obat darah tinggi, atau sekadar membantu menensi kakek sebelah rumah memberikan kepuasan batin yang luar biasa. Hal ini menjadi ajang latihan komunikasi terapeutik di luar lingkungan rumah sakit. Namun, dukanya adalah saat tetangga menanyakan hal-hal yang sangat spesifik atau meminta resep obat keras yang secara hukum dan etika belum boleh kamu berikan.
Tantangan lain dalam Suka Duka menjadi konsultan dadakan adalah adanya ekspektasi bahwa kamu tahu segala hal tentang penyakit. Jika kamu menjawab “belum belajar bagian itu”, terkadang muncul selentingan bahwa kuliahmu tidak serius, padahal dunia medis sangatlah luas dan berjenjang. Selain itu, ada risiko salah persepsi jika penjelasan yang diberikan kurang tepat, yang bisa berdampak pada kesehatan tetangga tersebut. Di sinilah mahasiswa kesehatan belajar seni untuk tetap rendah hati dan berani berkata “sebaiknya periksa ke dokter” demi keamanan pasien, sambil tetap memberikan pertolongan pertama yang sesuai kapasitasnya.
Untuk menghadapi Suka Duka interaksi sosial ini, mahasiswa kesehatan harus dibekali dengan kemampuan literasi kesehatan yang baik agar tidak memberikan informasi hoaks. Menjadikan rumah sebagai laboratorium sosial adalah cara cerdas untuk mengasah rasa empati dan kepedulian. Pastikan untuk selalu menekankan bahwa saran yang diberikan bersifat edukatif dan bukan pengganti diagnosa medis profesional di fasilitas kesehatan. Dengan begitu, kepercayaan tetangga tetap terjaga tanpa harus melanggar kode etik atau membahayakan keselamatan orang lain karena diagnosa yang terburu-buru.
